SEJARAH

Bandar Udara Mozes Kilangin yang terletak di Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, memiliki latar belakang sejarah yang unik. Bandara ini bertransformasi dari sekadar landasan pacu operasional tambang swasta menjadi salah satu bandara internasional dan domestik paling vital di tanah Papua.

Berikut adalah sejarah lengkap Bandar Udara Mozes Kilangin yang dihimpun dari berbagai referensi sejarah dan catatan penerbangan:

1. Awal Pembangunan oleh PT Freeport Indonesia (1970)

Berdasarkan catatan sejarah daerah dan profil perusahaan, bandara ini awalnya tidak dibangun oleh pemerintah, melainkan oleh perusahaan pertambangan PT Freeport Indonesia (PTFI) pada tahun 1970.

  • Tujuan Awal: Landasan pacu ini dibangun murni untuk mendukung mobilitas logistik, karyawan, dan operasional penambangan bijih tembaga dan emas di dataran tinggi Tembagapura.

  • Kondisi Awal: Pada masa-masa awal, fasilitas bandara sangat terbatas dan berstatus sebagai bandara khusus (privat) milik perusahaan.

2. Asal-Usul Nama “Mozes Kilangin”

Nama bandara ini diambil dari sosok Mozes Kilangin, seorang tokoh adat penting dari Suku Amungme (suku asli yang mendiami wilayah pegunungan Mimika).

  • Siapa Mozes Kilangin? Lahir sekitar tahun 1925, Mozes adalah orang Amungme pertama yang berhasil menyelesaikan pendidikan guru (menempuh studi hingga ke Kokonao, Merauke, bahkan Maluku).

  • Peran Sejarah: Ketika Freeport mulai masuk ke Timika, terjadi gegar budaya dan konflik lahan dengan masyarakat lokal yang menganggap gunung-gunung mereka sakral. Mozes Kilangin hadir sebagai tokoh penengah (mediator) antara pihak perusahaan, pemerintah, dan masyarakat adat.

  • Ia selalu memperjuangkan agar hak-hak masyarakat asli dihormati, serta mendesak agar hasil kekayaan alam digunakan untuk membangun pendidikan, kesehatan, dan perumahan bagi orang Papua.

  • Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, namanya diabadikan sebagai nama bandara, dan patung perunggunya yang megah (karya seniman kenamaan I Nyoman Nuarta) didirikan di area gerbang bandara.

3. Alih Fungsi Menjadi Bandara Umum (2008–2013)

Seiring berkembangnya Timika dari wilayah kamp kerja menjadi sebuah kota administratif dan kabupaten yang padat, kebutuhan akan akses penerbangan sipil meningkat pesat.

  • Peresmian Bandara Internasional (2008): Pada tanggal 18 Juli 2008, Menteri Perhubungan saat itu, Jusman Syafii Djamal, meresmikan Mozes Kilangin sebagai bandara internasional setelah dilakukan berbagai renovasi fasilitas dan landasan pacu sepanjang 2.930 meter.

  • Penyerahan Pengelolaan (2013): Pada tahun 2013, status bandara ini resmi dialihkan dari bandara khusus perusahaan menjadi bandara umum. Pengelolaannya mulai dipegang oleh UPBU (Unit Pelaksana Bandar Udara) di bawah naungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan RI.

4. Modernisasi, Perluasan, dan Desain Arsitektur Budaya

Untuk menampung lonjakan penumpang dan mempersiapkan event-event besar (seperti PON XX Papua), pemerintah pusat melalui Kemenhub bersama Pemerintah Daerah terus mengucurkan anggaran besar sejak tahun 2014 untuk merenovasi bandara ini.

  • Terminal Baru: Dibangun gedung terminal penumpang komersial baru yang megah dengan konstruksi dua lantai seluas lebih dari 21.000 meter persegi.

  • Sentuhan Budaya: Desain arsitektur terminal yang baru mengadopsi konsep Neo-Vernakular, menggabungkan teknologi modern dengan adaptasi bentuk Rumah Honai (Silimo) dan pola ukiran lokal, menjadikannya ikon kebanggaan masyarakat Mimika.

  • Monumen Tambang: Di area bandara, terdapat juga prasasti unik berupa ban haul truck (truk raksasa pertambangan) berdiameter lebih dari 3 meter untuk mengenang para pekerja ahli dari berbagai belahan dunia yang ikut membangun infrastruktur di awal masa operasional Freeport.

Kepala Kantor Bandar udara Mozes Kilang Terdahulu